Cari Blog Ini

Sabtu, 16 Maret 2019

Mutiara yang Terjaga (Kajian Kemuslimahan)

Materi kajian ini saya dapatkan tepatnya pada tanggal 22 Maret 2017 ketika mengikuti kajian kemuslimahan yang diselenggarakan oleh UKKI UNNES. UKKI adalah organisasi kerohanian islam tingkat universitas. Sebagai seorang mahasiswi muslim yang tengah sibuk mencari jati diri, tentu mengikuti kajian-kajian seperti ini adalah salah satu cara untuk membuka diri pada ilmu Allah yang teramat luas. Mendapatkan ilmu gratis dan teman-teman baru serta semangat yang membara adalah nilai tambah setiap usai mengikuti kajian. Mungkin itulah salah satu berkah mengikuti suatu majlis ilmu. Di mana sayap-sayap malaikat turut menaungi. Maka perbanyaklah doa agar para malaikat turut mengaminkannya.


Mutiara yang Terjaga.. 
Ketika dilantunkan kalimat tersebut, maka kemungkinan banyak dari kita timbul tanya, mutiara seperti apakah yang seharusnya dijaga?
Lantas bagaimana cara menjaganya?

Yaa ukhtii,, Allah swt telah menyampaikan firmannya dalam Al-qur’an surat An-Nur: 31 yang artinya,

"Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung."

💖Untuk itu, sudah seharusnya apabila seorang wanita mengerti bagaimana kaidah-kaidah menutup aurat.
Terdapat dua pendapat terkait batasan aurat wanita,
1⃣Semua bagian wanita adalah aurat
Pendapat ini ditafsirkan dari Q.S. Al-Ahzab: 59 yang artinya,
"Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, Hendaklah mereka menutup jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
2⃣Seluruh bagian wanita kecuali wajah dan telapak tangan.
Pendapat ini didasarkan oleh Q.S. An-Nur: 31 seperti yang telah dituliskan di atas.

Keduanya mempunyai dasar masing-masing, maka kita sesama muslimah tidak boleh membeda-bedakan yang sejatinya itu menjadi penyebab utama terjadinya perpecahan. Untuk menghindari hal tersebut, maka kita harus memahami fiqih dalam artian yang sebenar-benarnya, tidak hanya setengah-setengah sehingga pemahaman kita terhadap suatu ilmu itu tidak salah.

Beberapa syarat dalam menutupi aurat wanita dijelaskan dalam Fiqhus Sunnah Lin Nisa, salah satunya yaitu karangan Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim yang dirangkum dalam beberapa point utama:
1⃣Menutupi seluruh badan kecuali telapak tangan dan wajah, dijelaskan dalam Q.S. An-Nur: 31 dan Al-Ahzab: 59.
2⃣Pakaian wanita bukan bagian dari perhiasan. Jadi kita harus memahami hakikat pakaian adalah sebagai penutup aurat. Maka dalam memakainya tidak boleh berlebih-lebihan sehingga menjadi sebab seorang wanita bertabarruj.
3⃣Bahan pakaian tebal dan tidak nerawang.
4⃣Pakaian itu harus longgar
5⃣Pakaian tidak boleh diharumkan dengan dupa.
6⃣Pakaian wanita tidak boleh mirip kaum lelaki.
7⃣Tidak meniru pakaian orang-orang kafir.
8⃣Tidak merupakan pakaian syuhrah, atau untuk popularitas di tengah masyarakat. Baik dengan pakaian mewah untuk menampakkan kekayaan atau pakaian lusuh dengan tujuan zuhud. ‼
Tambahan bahwa wanita dihalalkan memakai pakaian dari sutra, tapi diharamkan bagi lelaki.

Selasa, 08 Agustus 2017

Tawakkal Ilallah Is a Secret of Happiness


10 menit sudah aku duduk disini tanpa tau siapa yang sebenarnya ku nanti. Detak jantungku melaju lebih kencang saat kulihat jam tangan digitalku menunjuk angka 09.45. Hanya seberkas kertas yang kupegang inilah sebagai penunjuk bahwa aku akan bertemu penulisnya. Secarik surat yang membuatku bertanya-tanya semalaman. Selembar kertas bertinta hijau yang membuatku tidak bisa tidur tenang. Berkali-kali aku membuka dan membaca kembali isi surat singkat itu. 
"Assalamu’alaikum, ukhti.. Empat tahun sudah sejak pertemuan kita kala itu selalu menyisakan tanya. Sejak aku menatap kedua matamu aku merasakan keanehan yang tak mampu kujelaskan. Selamat atas kelulusannya. Surat ini sebagai awal niatan saya untuk bersilaturahmi denganmu, jika berkenan datanglah ke pengajian rutin mingguan di masjid Al Fath, usai pengajian temui saya di serambi masjid. Ajaklah seorang temanmu agar tidak menimbulkan fitnah."
“Dek, belum ada juga ya?” Tanya mbak Ria yang hari ini sengaja aku ajak kesini.
Kulihat kembali jam tanganku, pukul 10.00. “Belum, mbak. Kita tunggu sebentar lagi ya?”
“Oke” Jawabnya mang gut-manggut.
Pandanganku terus menatap ke depan, tepat ketika ada seorang pemuda dengan kesabarannya berjalan menggunakan kursi rodanya ke arah kami. Dia seorang pemuda yang santun, tidak bisa kami pungkiri bahwa dia memang tampan. Tapi keadaan apa yang telah membawanya dalam kehidupan yang seperti ini? Memiliki kaki namun kakinya tak bernyawa.
”Pemuda itukah yang menuliskan surat ini?” Hatiku bertanya-tanya.
“Assalamu’alaikum..” Pemuda itu dengan ramah menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dadanya. “Maaf, sudah membuat kalian menunggu lama.” Lanjutnya kemudian.
“Wa’alaikumsalam..” Jawab aku dengan mbak Ria serentak. Aku masih terheran-heran. Benarkah lelaki ini yang ku tunggu? Benarkah lelaki ini yang telah menulis selembar surat yang kini kupegang? Lantas siapakah pemuda yang ada di depanku ini? Sekalipun tak pernah kuingat bahwa aku pernah mengenalnya.
Seperti mengetahui kebingungan kami, pemuda itupun langsung memperkenalkan diri. “Nama saya Fahmi, Fahmi Abdul Hanan. Mungkin ukhti belum pernah mengenal saya. Tapi sebelumnya saya minta maaf, saya mengenal ukhti 4 tahun lalu di TPA Ar-Rahman. Saat saya mampir untuk menunaikan ibadah shalat ‘Asyar usai menjajakan buku-buku saya. Selalu saya ingat kala itu, ketika ukhti menghampiri saya untuk menyampaikan sesungging senyuman sebelum kita sama-sama melangkahkan kaki memasuki masjid. Saya mengetahui nama dan alamat ukhti dari salah seorang santriwati yang ada disana. Saya punya nomer handphonemu, tapi sejak saya tau bahwa ukhti masih SMP saya belum berani mengganggu. Ternyata sampai saat ini hati saya masih tetap terjaga, maka saya beranikan diri untuk menemuimu.”
Aku terkejut dengan apa yang barusan dikatakan olehnya. Dengan sopan tanpa keraguan sedikitpun ia mengatakan apa yang selama ini dipendamnya.
“Kenapa tidak dari dulu antum mengatakannya?” Tanyaku dengan sedikit gemetar, seketika rasa dingin menjalar di seluruh tubuhku.
“Aku takut, ti. Dari pertemuan pertama sudah kusisakan rasa kagum. Jika pertemuan dan perkenalan itu berlanjut, hanya akan menyisakan rasa rindu. Dan aku tidak menginginkannya, sungguh saat itu aku tak ingin merindu. Dari pertemuan ini saya tidak menginginkan banyak hal selain hanya untuk silaturahmi. Jadi maafkan saya apabila ada kata-kata yang mengusikmu.”
Obrolan kami terus berlanjut, dari hal-hal yang sederhana hingga yang mengesankan. Akhirnya aku memberanikan diri untuk menanyakan tentang keadaan kakinya.
”Maaf, kalau boleh saya tau apa yang telah membuat kaki antum cidera hingga harus menggunakan kursi roda?”
Dia tersenyum seperti tidak ada beban yang ia tanggung dengan keadaan kakinya yang seperti itu. “Dua tahun lalu ketika saya tengah menjajakan buku, ada sebuah mobil yang menyerempet motor saya. Pengemudi langsung melarikan diri dan tidak mau bertanggungjawab atas keteledorannya. Dari kejadian itu Allah menguji saya untuk mengetahui kesabaran hamba-Nya. Saya hanya bisa ikhlas dan mengharap keajaiban dari Allah untuk kesembuhan saya. Pun tidak apa-apa jika tubuh saya tidak sempurna, asal saya masih memiliki hati yang sempurna. Saya juga tidak akan putus asa meski kaki saya tidak berfungsi asalkan hati saya masih berfungsi untuk mensyukuri segala keagungan-Nya. Hati yang bisa saya gunakan untuk merenungi kebesaran-Nya. Hidup tanpa sebuah kaki bukanlah suatu masalah besar, tapi hidup tanpa adanya Allah di hati kita itulah bencana yang paling menakutkan.”
Subhanallaaah.. Siapa yang tidak kagum melihat seorang pemuda dengan kepasrahannya selalu mengutamakan Allah diantara yang lainnya? “Semoga Allah memberikan yang terbaik untuk antum, sehingga antum bisa kembali menjajakan buku-buku. Pasti sudah banyak pelanggan yang merindukan kedatangan antum.”
Mbak Ria yang sedari tadi asyik dengan ponselnya tiba-tiba menepuk bahuku. “Dek, itu bukannya Mas Alfi ya, kok dia ada disini?”
Mata kamipun bertemu, Mas Alfi yang berjalan tepat di depan kami sama sekali tidak tersenyum untuk menyapa kami. Aku sempat heran, biasanya Mas Alfi selalu menyapaku jika kami bertemu. “Kok dia diam aja sih, mbak? Padahal tadi dia melihatku lo, kayak kagak kenal aja sih!” Kataku sedikit emosi.
“Kalian mengenalnya? Dia selalu hadir di pengajian ini, kadang-kadang dia juga ikut ngisi materi atau pembaca ayat suci. Kalau boleh sedikit ngasih saran, kalian harus ingat hanya senyumanlah yang akan dibalas dengan senyuman. Dan hanya sapaan yang akan dibalas sapaan. Jangan pernah menunggu untuk disapa, tapi sapalah ia terlebih dahulu jika kamu ingin disapa. Tidak pernah ada salahnya ketika kita harus mengalahi untuk menyapa, justru disitulah Allah memberikan kesempatan bagi kita untuk ibadah dan memulai untuk bersedekah. Tidakkah kalian ingat sebuah pepatah tabassumuka fii wajhi akhiihi shodaqatun? Kemudian setiap sedekah pasti akan dibalas oleh Allah. Jagalah dirimu, jadikan Allah sebagai sandaran atas apa saja yang menimpamu. Hanya kepasrahan yang akan membawa diri kita pada sebuah kebahagiaan yang haqiqi. Saya harus pamitan, semoga kita bisa bertemu lain waktu. Assalamu’alaikum..”
Pemuda itu berlalu meninggalkanku dengan Mbak Ria yang masih termenung merenungi ucapannya. Tutur katanya yang lembut dan mudah dicerna membuat orang yang mendengarnya merasa kagum. Benar apa yang dikatakan olehnya, hanya senyuman yang akan dibalas senyuman dan hanya kepasrahan yang akan membawa kita pada kebahagiaan. Kebahagiaan haqiqi dari Allah untuk hamba-Nya yang sabar dan ikhlas meletakkan segenap doa dan ikhtiarnya hanya atas nama ALLAH. 

Senin, 07 Agustus 2017

Inspirasi Pernikahan Muslimah



Inspirasi Pernikahan Muslimah ( @muslimahwedding )

Repost @duniajilbab 💌 QAIDAH CINTA "Kau kuhalalkan atau kulepaskan" Begitulah kaidah cinta seorang mukmin yang menghormati kesucian cinta. Tegas dan tak kenal basa-basi. Dia menyadari bahwa tak ada cinta yang halal sebelum ia terikat dalam ikatan suci pernikahan. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda : "Tidak ada penawar yg lebih manjur bagi dua insan yg saling mencintai kecuali pernikahan“ (HR. Muslim) Sahabat... Takdir cinta akan selalu Indah pada masanya. Engkau hanya perlu bersabar dalam penantian dan pencarian, hingga Allah membawamu pada orang yang tepat diwaktu yang tepat. Tetaplah diatas jalan petunjuk-Nya, sekalipun ia terasa panjang. Jangan tergesa-gesa lalu berbelok menempuh jalan pintas. Tunggulah sampai ia mekar.. Memetiknya sebelum mekar sama dengan melawan kodrat syar'i-Nya. Jadi.. Katakan tidak untuk pacaran. ﺍﺗَّﻖِ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻭﻻ ﺗَﻔُﺾَّ ﺍﻟْﺨَﺎﺗَﻢَ ﺇﻻ ﺑِﺤَﻘِّﻪِ "Bertakwalah kepada Allah, dan jangan pecahkan cincin kecuali dengan haknya".(HR. Bukhori) 📝 Oleh Ustadz Aan Candra Thalib ﺣﻔﻈﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ Repost by : 💢TEGAR DIATAS SUNNAH Grup Sharing Kajian Islam . .

Salam ukhuwah @ummuzahrani 😇
#RepostIt_app

Tenanglah, Segala Sesuatu Berjalan dengan Ketentuan dan Taqdir





#menjadiwanitapalingbahagia
"Sesuatu yang membuatmu bahagia tak akan selamanya membahagiakanmu
Dan tidaklah kesedihan itu bisa mengembalikan sesuatu yang telah hilang"


Salah satu uraian Dale Carnegie untuk menggantikan pengertian dari beriman kepada qadha dan qadar adalah sebagai berikut :

"Seseorang menganjurkan kepada orang yang terkena musibah untuk tidak menghiraukan berbagai penderitaan yang dialaminya sebagaimana yang dilakukan oleh para kerbau dan ranting-ranting pohon." namun, orang itu tidak mengabaikan nasihat ini karena yakin keadaannya tidak bisa berubah.

Sekarang, marilah kita lihat pengakuannya setelah itu. Ia berkata : "Aku sering tidak bisa menerima sesuatu yang menimpaku. aku merasa sangat bodoh. Lalu aku berontak, mencaci keadaan, dan marah-marah hingga malam-malamku serasa seperti neraka. Setelah setahun jiwaku tertekan, aku baru teringat dengan nasehat tadi dan mencoba untuk mengikutinya. Padahal, sejak awal aku yakin bila keadaan ini tidak bisa berubah. Kemudian aku mengingat pernyataan seorang penyair bernama Walt Hewitmann dalam syairnya berikut ini :

Alangkah indahnya....
Aku bisa melihat kegelapan, terik matahari, dan merasakan lapar, bencana, putus asa, penghinaan dan teguran yang keras seperti hewan-hewan dan cabang-cabang pohon itu menghadapinya. Aku pernah menghabiskan dua belas tahun umurku bersama hewan-hewan ternak itu. Dan aku tidak melihat seekor seekor sapi betina pun yang kesusahan tau bersedih karena padang rumput terbakar atau kering karena sedikitnya hujan. Aku juga tidak pernah melihat ada sapi betina yang sedih karena ditinggalkan oleh sapi jantannya yang merayu sapi betina yang lain.


Sesungguhnya hewan menghadapi kegelapan, badai, dan rasa lapar dengan tenang dan santai. Karena itulah, mereka tak pernah mengalami stress dan penyakit jantung.

Pencerahan :
"Kenanglah semua kesuksesan dan kegembiraan itu. Lalu, lupakan semua kesulitan dan bencana yang pernah terjadi."

NOTES FROM MUKHOFAS INSPIRATION: Ujian Kesuksesan adalah Kunci Menuju Sukses - Sebu...

NOTES FROM MUKHOFAS INSPIRATION: Ujian Kesuksesan adalah Kunci Menuju Sukses - Sebu...: tiada sukses sebelum ujian bertubi tubi datang. banyak tidak tahu. sukses tidak datang penuh dengan kesenangan.

PPT Kimia Organik (Hidrokarbon)


Untuk mendapatkan ppt ini, download disini



Minggu, 06 Agustus 2017

Seminar Nasional IPA VIII Unnes


Seminar Nasional IPA adalah acara tahunan yang diselenggarakan Jurusan IPA Terpadu Universitas Negeri Semarang. Pada tahun 2017 ini sudah mencapai yang ke-8, tepatnya dilaksanakan pada hari Sabtu, 29 April 2017 di Hotel Grasia Semarang dengan tema "Inovasi Penelitian dan Pembelajaran IPA berwawasan Konservasi" dengan narasumber yaitu Prof. Dr. Melor M. D Yunus (Deputi Dean of Research and Innovation University Kebangsaan Malaysia; Kulthida Nughultam, Ph. D (Sciaence Education, Kasetsart University Thailand; dan Prof. Nathan Hindarto (Universitas Negeri Semarang).

Eksplore Surakarta



Jalan-jalan seharian dengan sahabat, namanya Septia Nurkhalisa, asli Demak. Awalnya si cuman mau nyobain rasanya naik kereta yang murah, yang kata orang Semarang-Solo cuman 10 ribu. Eh pas sampai stasiun beneran ada tuh kereta namanya Kereta Kalijaga. Beberapa rute yang kami lalui, yaitu Universitas Negeri Surakarta, belanja di pasar Klewer, ke Masjid Agusng Surakarta, dan Keraton Surakarta. 

Al-Hikam BAB 13



Lantunan amanat yang pernah disampaikan dalam kajian rutin Al-Hikam, BAB 13 :
“Bagaimana akan terang hati seorang hamba, yang gambar dunia terbayang jelas dalam cermin hatinya?
Bagaimana akan melangkah menuju Allah, padahal ia sedang terbelenggu dalam kungkungan syahwatnya?

Bagaimana ia akan bisa masuk ke hadhirat Allah, sedangkan ia belum suci dari kelalaiannya?
Dan bagaimana ia berharap akan mengerti rahasia-rahasia mendalam dan indah, sedangkan ia belum bertaubat dari kesalahan-kesalahannya?”

Pertanyaan-pertanyaan tersebut ketika membacanya menjadikan sebuah alat sebagai introspeksi diri jika mengharapkan benar keridhaan Allah, ketenangan hidup, dan kedamaian.

Ibnu Atthoilah mengibaratkan hati sebagai cermin, jika kita mau mengamati ketika cermin dihadapkan pada sumur yang gelap maka ia akan gelap. Namun jika dihadapkan pada matahari, maka ia akan berkilau. Begitulah hati kita, jika kita menghadapkan hati kita hanya pada dunia maka yang ada hanyalah kegelapan yang tiada henti, angan-angannya akan jauh pada dunia sehingga jauh dari dzikrullah. Semua itu terjadi karena kita terlalu mementingkan keingainan syahwat dan hawa nafsu terhadap duniawi yang dimanjakan oleh kelalaian yang berkelanjutan terhadap Allah, sehingga banyak kesalahan-kesalahan atau keteledoran yang kita ciptakan tanpa mau memikirkan kebenarannya.

Intinya banyaknya keteledoran dan kesalahan-kesalahan tersebut menjadi sebab terjadinya kelalaian, tenggelam dalam kelalaian menjadi faktor menuruti kehendak syahwat yang memperbudak, dan menuruti kehendak syahwat menjadi sebab utama cermin hati didominasi oleh gambar dunia yang gelap gulita.

"Dunia adalah sebuah madrasah, tempat kita menuntut ilmu dalam rangka ma'rifatullah. Maka dalam setiap hal yang kita pelajari, disana pasti terdapat hikmah yang tersurat maupun tersirat. Yang titik pangkalnya adalah ada Allah di balik segala sesuatu, bagi insan yang mau berfikir."

Jumat, 14 April 2017


Tugas Management Sekolah Semester tiga Pendidikan IPA Universitas Negeri Semarang, Dian Emy Mastura https://docs.google.com/presentation/d/1LzYMVpVteb7XBuE4RR3FgtXrd2ylwgLMiKJdQ1d6nGI/edit?usp=sharing

Senin, 23 Mei 2016

Menyulam Benang Kasih Berkainkan Teman

Larut dalam kata
Ketika kau menemuiku di penghujung senja
Hanya tanya yang terus menyeruak
Menggetarkan hati yang dipenuhi sesak
Telah lamu ku mengubur luka
Mengumpulkan puing rindu dalam untaian cerita
Ditemani temaran cahaya rembulan
Yang semakin malam kurasa semakin terang
Teringatku dalam sebuah kenangan
Yang membuat jemariku mengusap peluh sendirian
Bisakah engkau perlahan menghirup udara sekitarmu, wahai hati yang ku rindu?
Nikmati dan rasakanlah sejuknya cinta yang telah kutitipkan di dalamnya
Udara yang membawa sebuah rasa yang tak henti ku rajut "rindu"
Bersama datangnya pagi dan hilangnya malam
Masih aku dengan ilusiku yang bersua
Egois!
Apa kata itu pantas untuk mengataimu?
Yang datang menanam cinta
Kemudian mencabutnya sesukamu
Benar kau mencabut rasa itu sampai akarnya
Hingga tak pernah kau merasa betapa seringnya ku mengiba?

Tidak
Pada kenyataannya kini kamu kembali
Menyulam benang kasih
Yang berkainkan teman
Berbulan-bulan ku menanti
Menatap purnama pertama, kedua, ketiga
Masih tanpamu
Kepergian yang tak akan kembali, pikirku
Namun aku tetap menunggu
Mengharap senyum indah itu
Lama, 100 hari lebih aku menanti
Senyuman yang tersimpul tulus
Ketika ku berucap "aku takut berharap"
Balasanmu bagai pintu yang menutup jalanku untuk kembali merajut cinta
Pintu yang enggan terbuka untuk memberiku tempat
Sebuah ruang kosong dimana aku bebas memelihara cinta
Ada dalam anganku
Aku menukar luka dengan cinta
Perih memang
Tapi tak seperih ketika kau pergi tanpa seulas senyuman
Kini kamu hadir
Benar disini
Tapi akankah hadirmu akan semakin nyata seiring waktu
Atau hanya datang untuk pergi lagi?

25 April 2015 21.45

Minggu, 22 Mei 2016

Allahlah Pelindungmu karena Al Qur’an ada di dalam Hatimu


Dan ingatlah, Al-Qur’an adalah satu-satunya petunjuk yang mutlak kebenarannya. Jagalah ia maka ia akan menjagamu. Al-Qur’an, kitab suci yang di dalamnya telah tersurat tentang makhluk hidup dan kehidupannya. Analogikan, seorang presiden bepergian dengan menggunakan mobil. Ketika bodiguart-bodiguatnya mengetahui bahwa presiden telah berada di dalam mobil, maka mereka akan berusaha melindungi sekuat tenaga. Bahkan mendesain kaca-kaca mobil itu anti peluru. Sama dengan Al-Qur’an, Ia adalah kalamullah. Ketika engkau meletakkan Al-Qur’an di dalam hatimu, maka Allah yang akan melindungimu. Karena Allah tau, Al-Qur’an ada di dalam hatimu.
Penggalan kata yang slalu saya ingat, yang menjadi bahan bakar ketika semangat mulai tergerogoti, dari Almarhum Ustadz Rahmat Abdullah dalam buku Cahaya di Atas Cahaya, karya Oki Setiana Dewi.
Teruslah bergerak, hinga keletihan itu lelah mengikutimu
Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu
Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu
Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu future menyertaimu
Hamba Allah tidak pernah berhenti di persimpangan
Hanya ketika bertemu dengan-Nyalah, waktu-waktu untuk istirahat

Suatu sore, secara tidak sengaja ketika lewat di depan mushola Izha melihat bahwa disana sedang ada sebuah kajian bersama. Dia pikir ini memang khusus perempuan, karena tak ditemui seorang lelakipun disana. Akhirnya dia memutuskan untuk join it. Tak lama kemudian, acara dibuka dan saat itulah Izha menyadari ini adalah kajian An-Nisa, kajian rutin mingguan yang dilaksanakan memang khusus untuk wanita.
Awal Izha bertemu dengan sosok wanita yang sederhana tapi mempesona, dialah mbak Iza. Pembicara tausiyah pada pertemuan kali ini. Dia yang membawa Izha pada angan dan impian yang tiada putus-putusnya. Usai kajian, Izha paksakan dirinya untuk menyapa mbak Iza, “Mbak, nama saya Izha juga lho..tapi pakai “h”. Bisa nggak ya suatu saat aku menjadi seperti mbak?” tanya Izha sedikit konyol. “Tentu, dek. Tidak ada sesuatu yang tidak mungkin jika Allah telah berkehendak.” Obrolan mereka berlanjut, dan Izha tahu bahwa Mbak Iza adalah anak IR (Ikhwah Rasul). Dia mengetahui tentang ikhwah rasul dari temannya yang ternyata juga tinggal disana. Sempat sesalnya menyeruak,, “kenapa dulu aku tidak memilih kost disana. Tapi ya sudahlah biarlah satu tahun berlalu di kost ini.” Kata Izha menggerutu. Hingga suatu hari dia menerima sebuah sms dari Mbak Iza, “Dek, ikutan liqa’ sama mbak yuk?” ajaknya dengan emoticon smile yang tak pernah ia tinggalkan ketika mengirimkan sebuah pesan. “Dimana dan kapan, mbak?” tanyanya penasaran. Awalnya ingin pula Izha bertanya “liqa’ ma apaan atuh” tapi dia urungkan. Karena dia mengerti, toh kalau dah ikutan Izha bakalan tau sendiri. Yang pasti dia meyakini bahwa ini adalah suatu kegiatan positif. “Setiap Jum’at sore, di pelataran perpustakaan pusat. Disana ada sebuah gazebo yang biasa kami gunakan untuk mangkal, mengkaji ilmu Allah, datang ya.. Mbak tunggu.” Masih sama dengan emoticonnya. Izha tersenyum, dan dengan antusiasnya dia menuliskan sebuah balasan, “InsyaAllah, mbak. Terimakasih..“
Darinya Izha banyak belajar. Suatu hari setelah ada sebuah training leadership, salah seorang teman serombelnya menjadi the best. “Bisa ndak ya aku berdiri di depan sana, menerima sebuah hadiah kemudian di foto sama ketua panitia?” Angannya berkeliaran, tidak mungkin. Waktupun berlalu, karena azzamnya yang terpatri begitu kuat, suatu hari yang cerah dia memutuskan mengikuti Bacic Leadership and Training yang diselenggarakan oleh Moslem Organisation of Sains Education. Dan dia bertekad, “hari ini aku yang akan berdiri di depan sebagai peserta terbaik.” Dan semuanya berjalan sesuai dengan harapan. Ketika nama Izha As-Syifa dipanggil sebagai the best participant, seorang wanita tiba-tiba berteriak dari belakang, “Yang berdiri disana adalah adik PSku. Ya, Personality School, dialah Mbak Atul. Mentor Izha yang sekali dalam seminggu mengajaknya wisata rohani untuk menafakuri keagungan-Nya. Haru dan bangga menyelimuti saat Izha berhasil mewujudkan salah satu dari ratusan impiannya. Serta merasa diakui adalah sesuatu yang sangat luar biasa.

Kamis, 29 Oktober 2015

Ku Bersimpuh Pada-Mu Ya Rabb

ولله الاسماءالحسنى فادعوه بها وذروالذين يلحدون فى اسماءه سيجزون ماكانوايعملون

Hanya milik Allah asmaaul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaaul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam menyebut nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. (Al A'raaf :180)


Al-Ghafur, salah satu dari 99 nama Allah yang artinya Maha Pengampun. Di antara dia yang menyebut nama ini adalah hadits yang menerangkan ketika Abu Bakar berkata kepada Rasulullah Saw., "Ajarkanlah aku sebuah doa yang akan aku baca di setiap shalatku." Beliau menjawab, 'Katakanlah :
اللهم انى ظلمت نفسي ظلما كثيرا ولا يغفر الذنوب الاانت فاغفرلى مغفرة من عندك وارحمني انك انت الغفورالرحيم
'Ya Allah, sesungguhnya aku telah banyak berbuat aniaya dan tidak ada yang bisa mengampuni dosa terkecuali hanya Engkau, karena itu ampunilah aku dengan ampunan yang datang dari sisi-Mu, dan rahmatilah aku, karena sesungguhnya hanya Engkaulah Yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang'. (Sahiihul Bukhari, 799)

Siapa saja yang dengan keyakinannya berdoa dan memohon kepada Allah, Allah pasti mengabulkannya. Ntah itu sekarang ataupun nanti, langsung ataupun tidak, tapi percayalah Allah pasti akan mengabulkan semua permohonan hamba-Nya yang meminta kepada-Nya. Bisa saja Allah mengabulkan ketika kita masih di dunia, bisa pula ketika kita sudah di akherat kelak. Bisa sesuai dengan harapan kita, ada pula yang tidak. Tapi yakinlah, sekali lagi yakinlah!! Allah lebih mengetahui apa yang terbaik untuk hamba-Nya. Allah itu Maha Melihat, Maha Mendengar, dan Maha Pengampun atas segala dosa. Suatu hari saya berkeluh kesah atas kehidupan yang saya, saya slalu bertanya pada hati saya sendiri, "Apa yang menghalangi saya untuk taubatan nashuha?" Bahkan saya jengkel dengan diri saya sendiri yang enggan membuka mata hati untuk sekedar mensyukuri segala nikmat-Nya. Sampai akhirnya saya bertemu dengan seorang wanita, sengaja saya mendatanginya karena saya yakin dia bisa membantu saya. Dan setiap kali saya mengeluh dia slalu berkata, "Hilangkan segala keraguan yang ada di hatimu, hindari perbuatan-perbuatan haram yang dapat mengotori jiwamu, perbanyaklah ibadah untuk memperkuat imanmu, dan teguhkanlah keyakinanmu bahwa Allahlah tujuan hidupmu". Tapi berkali-kali saya kembali goyah dan goyah, tapi setiap mendengarkan nasehatnya hati saya kembali sejuk. Allah yang mengirimkan ketenangan padaku dengan perantaraan dirinya, Allah mengirimkan dia untukku agar membimbingku menuju ridla-Nya, maka dari itu kepada Allah pula ingin kuungkapkan segala rasa syukurku dan pada-Nya pula kumohon ampun. Hamba menitipkan hati hamba untuk-Mu, jagalah agar hamba bisa tetap istiqamah di jalan-Mu.

Rabu, 15 April 2015

Everybody Fighting

Tertanggal,
 06 April 2015.
Hari itu di sekolah diadakan training motivasi yang diisi oleh motivator
 dari Kampung Inggris Pare, Kediri. Marendra Darwis dan Mas Joy.
Marendra Darwis adalah seorang penulis, salah satu bukunya yang pernah
aku baca berjudul, "Apakah Bibirmu Masih Perawan". Acara ini sangat
berkesan, aku yang datang membawa letih, ketika pulang semangat kembali
membara, bagai api bertemu ranting-ranting kering.
Banyak hal yang bisa aku petik dari acara tersebut. Salah satu yang
paling aku ingat adalah ketika beliau bertanya,
"Apa kalian yakin umatnya Rasulullah?"
Kemudian beliau bercerita, di Padang Mahsyar ketika dikumpulkan, seorang
 ditanya oleh Allah, "Benarkah kamu umat Rasulullah?"
"Benar Ya Allah."
Kemudian Allah memanggil Rasul-Nya, "Benarkah dia umatmu?"
Rasulullah menjawab, "Bukan".
Malukan kalau ngaku-ngaku jadi umat Rasulullah, sedang Rasulullah tak
mengakui kita? Maka dari itu kita jangan hanya mengaku-ngaku, tapi juga
melaksanakan apa yang disunnahkan setelah memenuhi kewajiban. Jadikan diri dengan Rasulullah seperti jari telunjuk dan jari tengah, yang selalu dekat dan rekat. Marendra Darwis juga tak hentinya mengingatkan kita bahwasannya Allah selalu menolong hamba-Nya yang beriman, terus dan teruslah memperbarui iman dan semangat. Janganlah malas, beliau berkata, "Rasa malas muncul karena jauhnya ingatan dengan impian." Saat itu pula aku teringat dengan janjiku, untuk bertindak lebih keras dari biasanya. Untuk berbuat lebih banyak guna memenuhi ketertinggalanku. Janji yang hampir melebur beriring jiwaku yang merana. Tapi itu dah lewat, sekarang yang ada adalah masa depan. Masa depanku dengan impian-impianku yang tergores dalam selembar kertas putih tanpa dosa. 5 cm impian-impian itu ada di depan keningku, di dalam genggamanku.

Cintaku di Ujung Tombak


Impian, cita-cita, doa, dan
kepercayaan dari mereka adalah tujuanku. Ingatlah Allah slalu menolong
hambaNya yang beriman. Kak, doanya untukku ya?? Aku tak minta apa2 kok, cuma doa. Kakak masih maukan ngasih doa buat aku? #F

Senja kembali merana. Pulang sekolah rasanya
lemes, duduk saja langsung terbawa mimpi. Padahal seragam, sepatu
belumlah lepas.
Pukul 15.00
Teringat hari ini aku ada rencana ke rumahnya Mbak Syahwa. Cepat-cepat
aku mandi dan mencari dua buku yang pernah aku pinjam darinya. Sebelum
kesana aku mampir di rumah mbak Nisa.
|Mbak, repot? Tak ajak ke Bediwetan bisa?
|Bisa, tak ganti baju dulu ya?
|Oke.
Sesampainya disana, terlihat anak-anak TPQ yang berkerumun pulang. Ada
sosok wanita yang tengah duduk bersama suaminya.
|Assalamu'alaikum, sapaku.
|Wa'alaikumsalam, ada apa dek Emy tumben kesini? Tak kira dah lupa.
|Ndak mbak, mau mengembalikan buku aja. Sekalian minta doa buat ujian
besok Senin.
|Oh,, semoga ujiannya lancar. Terus gimana bidik misinya?
|Masih Mei, mbak.
|Gimana dek, sudah move on beneran?
|Sudah mbak, pokoknya fighting.
|Di kampus heboh banget lo mereka, dek.
|Udah mbak, aku ndak mau denger apa-apa pokoknya. Udah lupa, kataku
terpaksa.
Obrolan hangatpun terus berlanjut, namun aku lebih banyak diam. Hanya
berusaha tetap tersenyum dan tertawa sebisanya. Mbak Syahwa berkata, aku
dan mbk Nisa harus saling mengingatkan. Sebagai sahabat harus saling
memberi. InsyaAllah, mbak.

Sesampainya di rumah, aku berdiri di depan kaca. Menatap tajam mataku
dan berucap, "Ingatlah dengan impian kita, jalan hidup kita masih
terbentang luas di depan. Jangan sampai hanya karena dua orang saja
hidupmu berantakan." Air mata yang sedari tadi kutahanpun akhirnya
meleleh deras. Akupun memaksakan diri untuk tersenyum dan menghapus
lembut peluhku. Tatkala ku tatap diriku yang tengah tersenyum, aku
berucap, "Harus slalu seperti ini, semangat!! Semua ini adalah sebuah
konsekuensi yang harus kita jalani bersama, tentunya dengan penuh
keikhlasan.
Sakit di hatiku adalah sebuah pengorbanan, inilah hidup. Kamu pernah
menyakiti dan sekarang tersakiti itu biasa. Kita kuat, em!! Akupun
berlalu meninggalkan tawa dalam cermin, duduk dan teringat sebuah pesan,
"Surah Al-Waqi'ahnya jangan lupa."
Aku segera berwudlu, mengambil Al-Qur'an hijauku. Kubuka perlahan dan
ingatanku sayup-sayup kembali padanya. Tapi sesegera mungkin aku
mengelak, "Buang, buang semua tentangnya!" kataku.
Perlahan kucari Surah Al Waqi'ah, kubaca dengan penuh harap akan
ketenangan hati. Air mata, kembali air mata yang membanjiri. Namun, usai
membacanya, benar. Aku menemukan kesejukan, kedamaian untuk mulai
belajar. Ujian sudah di depan mata. Bukan dia yang aku cari, bukan dia
yang aku butuhkan, bukan dia tempatku menaruh cinta, bukan dia tempatku
mengeluh, bukan karena dia air mataku mengalir. Tapi untuk Allah, semua
untuk Allah.
08 April 2015

Tetapkan Hatiku dalam Agama-Mu


Tak
selamanya apa yang kita harapkan menjadi taqdir hidup kita. Tetap
yakin, bahwa Allah dekat. Istiqamah dan jangan terlalu memikirkan dunia.
Di akherat nanti, itulah hidup yang abadi. Siapapun kamu, aku ingin
kita bertemu di surga. Semangat, semangatt! Cuma tinggal menghitung jam,
ndak boleh lengah! Ingatkah apa yang dikatakan Pak Agus? Sesaat setelah
aku mencium punggung tangan beliau. Ingatanku terputar kembali pada
saat-saat kami anak-anak elektro dibentak olehnya karena ketidakseriusan
kami, meskipun begitu aku cukup bangga dengan hasil kerjaku dgn
teman-teman yang berhasil membuat Pak Agus sedikit bangga dengan
kelasku, IPA 2. Hehe. Meski tampak kasar, beliau juga banyak memberi
kami masukan. Tentang bagaimana beliau sekolah dengan satu buku, satu
buku yang slalu dibawanya kemana-mana. "Pak Agus, minta doanya buat
ujian nanti."
"Emy, ini? Yang penting semangat!" Teriakan beliau yang slalu terngiang
dalam ingatanku kala aku merasa letih. Langkahku tertuju pada bu Trina,
beliau yang dua tahun lalu pernah menawariku untuk menjadi anak asuhnya.
Aku teringat bagaimana aku pernah menangis di hadapan beliau. "Sukses,
nduk."
"Amin, makasih bu Trina."
Aku terus melangkah, tiba di depan pintu keluar kakiku terhenti dan
akupun menoleh kembali pada Bu Trina yang ternyata juga masih
memandangku. Aku anggukkan kepala yang disambut hangat oleh beliau.

Pukul 17.30
Sore hari tiba, acara istighasahpun digelar. "Apa yang terjadi padamu
malam ini? Kenapa kamu menangis? Sudahlah, jangan menangis terus." kata
salah seorang teman yang duduk di sampingku. Aku membalasnya dengan
senyuman, meski dia tau aku menangis tapi dia diam karena dia tau aku
tidak akan menceritakan apapun. "Suasana hatiku sedang tidak enak.hehe"
jawabku.
Tentang hatiku, Allah, ibu, ayah, keluarga, cita, cinta, semua terulas
kembali. Semua terbayang kembali saat indah itu dan saat menyakitkan
ini. "Ingat Allah! Tersenyumlah. Kamu bisa kok. Kita kuat. Kita akan
membuktikannya. Sabar, ikhlas." begitulah hati slalu memperingati.

"Mas, apa kamu tengah tersenyum bersamanya? Aku juga sedang tersenyum
kok, kak. Pada diriku sendiri, aku slalu berusaha untuk tersenyum. Saat
ku ingat kakak, aku slalu ingat Allah. Aku banyak blajar bagaimana aku
harus sabar dengan keadaan. Kak, makasih juga karena telah membuatku
slalu menyibukkan diri, mencari banyak cara agar setiap detiknya tak ada
kesempatan bagiku untuk menangis karena kakak.

13-15 April, kita akan berjuang
19 April, aku yakin aku bisa
Untuk seterusnya aku serahkan semua pa

Give Thanks to Allah

Diary oh Diary.
Sebenarnya aku masih takut menyentuhmu, aku tak berani mendekatimu, tapi
aku juga tak rela membuangmu. Tapi rasa rinduku mengalahkan
ketakutanku. Akhirnya aku beranikan diri untuk membuka masa laluku.
Awalnya aku tersenyum-senyum, mengingat-ingat bahwa kejadian demi
kejadian yang tersurat dalam diary ini adalah kisahku. Semakin banyak
aku membuka lembar demi lembar, tanganku terhenti pada sebuah judul
"Kata Motivasi dan Pencerah Qalbu" by Fikri (disamarkan). "Siapa Fikri
yang ada dalam diary ini?"
15 lembar lebih terlewati, semua berisi amanah dan nasehat yang pernah
kakak berikan. Kemudian usai kubaca tulisan dengan judul "Kejujuran dan
Cinta", aku berkata, "Aku tak ingat aku pernah menulis semua ini.
Tertanggal 06 Maret 2014.
|Semua hanya berat di fikiran. Kenyataan gak seperti yang ada di angan.
Aku minta pendapat. Tentang sikapku, apa yang harus aku lakukan dgn
perasaan ini?
|Tetaplah seperti itu, karena memang seharusnya seperti itu. Jadilah
diri sampean sendiri. Kalau yakin, kita bisa sama-sama menjaga hati.
|Apakah perlu kita mendekatkan hubungan?
|Aku hanya wanita biasa yang gak punya apa-apa. Mimpi apa aku ingin
bersanding dgn seorang sepertimu? Pantaskah aku berharap cintamu? Karna
itulah aku pengen menghindar. Ku gak pengen terlalu berharap dan
akhirnya hanya sakit.
|Mengapa harus kata-kata itu lagi yg terucap dari seorang yang ku
sayangi?
|Itu kenyataan, mas Fik. Ku ndak mengada-ada. Kalau sampean ndak yakin,
jangan pernah sekali-kali kamu memberikan harapan kepada seorang wanita
atau sampean hanya akan membuatnya menderita menahan sakit.
|Aku gak pernah main-main dgn suatu hubungan. Akan ku pertahankan sekuat
tenaga. Yang ku ragukan, apakah kamu bisa mempertahankan hubungan?
Seperti yang telah terjadi pada masa laluku.
... Dan masih banyak lagi.
Semua itu seperti dalam konteks drama saja. Teks yang tersusun dalam
lembaran itu adalah skenarionya. Tapi ngomong-ngomong, siapa tokoh
utamanya? Aku atau kamu?
^-^

Aku mengambil sebuah kesimpulan. Allah berhak membolak-balikkan hati
hamba-Nya. Aku yang kala berbahagia dengannya tak mengingat Allah,
sekarang Allah memberikan pelajaran dengan membalikkan hati orang yang
ku cinta. Tujuannya adalah Allah hanya ingin aku kembali mengingat-Nya,
dengan penuh kesabaran dan keikhlasan menerima ujian dari-Nya. Karena
itu, aku harus tegar. Bukankah tujuan hidup kita hanyalah Allah?
Setelah aku menulis semuanya, aku berfikir "Ternyata banyak juga tugas
yang Allah berikan padaku. Banyak orang yang belajar spiritual dari
keluarganya yang kemudian untuk dirinya. Tapi sebagian lagi harus berjuang belajar spiritual dari orang lain untuk diri sendiri dan untuk keluarga. Aku harus berjuang!

Sesaat aku menjajarkan telapak kaki kanan dan jari jempol kananku. Tegambar indah lambang cinta yang diukir Allah dalam bentuk yang sama. Sesekali aku berfikir, tak pernah kutemui manusia dgn tanda lahir seperti ini. Apakah Engkau menitipkan cinta untukku? Tuntunlah aku pada hidayah-Mu, aku merindukan-Mu..