Cari Blog Ini

Jumat, 14 April 2017


Tugas Management Sekolah Semester tiga Pendidikan IPA Universitas Negeri Semarang, Dian Emy Mastura https://docs.google.com/presentation/d/1LzYMVpVteb7XBuE4RR3FgtXrd2ylwgLMiKJdQ1d6nGI/edit?usp=sharing

Senin, 23 Mei 2016

Menyulam Benang Kasih Berkainkan Teman

Larut dalam kata
Ketika kau menemuiku di penghujung senja
Hanya tanya yang terus menyeruak
Menggetarkan hati yang dipenuhi sesak
Telah lamu ku mengubur luka
Mengumpulkan puing rindu dalam untaian cerita
Ditemani temaran cahaya rembulan
Yang semakin malam kurasa semakin terang
Teringatku dalam sebuah kenangan
Yang membuat jemariku mengusap peluh sendirian
Bisakah engkau perlahan menghirup udara sekitarmu, wahai hati yang ku rindu?
Nikmati dan rasakanlah sejuknya cinta yang telah kutitipkan di dalamnya
Udara yang membawa sebuah rasa yang tak henti ku rajut "rindu"
Bersama datangnya pagi dan hilangnya malam
Masih aku dengan ilusiku yang bersua
Egois!
Apa kata itu pantas untuk mengataimu?
Yang datang menanam cinta
Kemudian mencabutnya sesukamu
Benar kau mencabut rasa itu sampai akarnya
Hingga tak pernah kau merasa betapa seringnya ku mengiba?

Tidak
Pada kenyataannya kini kamu kembali
Menyulam benang kasih
Yang berkainkan teman
Berbulan-bulan ku menanti
Menatap purnama pertama, kedua, ketiga
Masih tanpamu
Kepergian yang tak akan kembali, pikirku
Namun aku tetap menunggu
Mengharap senyum indah itu
Lama, 100 hari lebih aku menanti
Senyuman yang tersimpul tulus
Ketika ku berucap "aku takut berharap"
Balasanmu bagai pintu yang menutup jalanku untuk kembali merajut cinta
Pintu yang enggan terbuka untuk memberiku tempat
Sebuah ruang kosong dimana aku bebas memelihara cinta
Ada dalam anganku
Aku menukar luka dengan cinta
Perih memang
Tapi tak seperih ketika kau pergi tanpa seulas senyuman
Kini kamu hadir
Benar disini
Tapi akankah hadirmu akan semakin nyata seiring waktu
Atau hanya datang untuk pergi lagi?

25 April 2015 21.45

Minggu, 22 Mei 2016

Allahlah Pelindungmu karena Al Qur’an ada di dalam Hatimu


Dan ingatlah, Al-Qur’an adalah satu-satunya petunjuk yang mutlak kebenarannya. Jagalah ia maka ia akan menjagamu. Al-Qur’an, kitab suci yang di dalamnya telah tersurat tentang makhluk hidup dan kehidupannya. Analogikan, seorang presiden bepergian dengan menggunakan mobil. Ketika bodiguart-bodiguatnya mengetahui bahwa presiden telah berada di dalam mobil, maka mereka akan berusaha melindungi sekuat tenaga. Bahkan mendesain kaca-kaca mobil itu anti peluru. Sama dengan Al-Qur’an, Ia adalah kalamullah. Ketika engkau meletakkan Al-Qur’an di dalam hatimu, maka Allah yang akan melindungimu. Karena Allah tau, Al-Qur’an ada di dalam hatimu.
Penggalan kata yang slalu saya ingat, yang menjadi bahan bakar ketika semangat mulai tergerogoti, dari Almarhum Ustadz Rahmat Abdullah dalam buku Cahaya di Atas Cahaya, karya Oki Setiana Dewi.
Teruslah bergerak, hinga keletihan itu lelah mengikutimu
Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu
Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu
Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu future menyertaimu
Hamba Allah tidak pernah berhenti di persimpangan
Hanya ketika bertemu dengan-Nyalah, waktu-waktu untuk istirahat

Suatu sore, secara tidak sengaja ketika lewat di depan mushola Izha melihat bahwa disana sedang ada sebuah kajian bersama. Dia pikir ini memang khusus perempuan, karena tak ditemui seorang lelakipun disana. Akhirnya dia memutuskan untuk join it. Tak lama kemudian, acara dibuka dan saat itulah Izha menyadari ini adalah kajian An-Nisa, kajian rutin mingguan yang dilaksanakan memang khusus untuk wanita.
Awal Izha bertemu dengan sosok wanita yang sederhana tapi mempesona, dialah mbak Iza. Pembicara tausiyah pada pertemuan kali ini. Dia yang membawa Izha pada angan dan impian yang tiada putus-putusnya. Usai kajian, Izha paksakan dirinya untuk menyapa mbak Iza, “Mbak, nama saya Izha juga lho..tapi pakai “h”. Bisa nggak ya suatu saat aku menjadi seperti mbak?” tanya Izha sedikit konyol. “Tentu, dek. Tidak ada sesuatu yang tidak mungkin jika Allah telah berkehendak.” Obrolan mereka berlanjut, dan Izha tahu bahwa Mbak Iza adalah anak IR (Ikhwah Rasul). Dia mengetahui tentang ikhwah rasul dari temannya yang ternyata juga tinggal disana. Sempat sesalnya menyeruak,, “kenapa dulu aku tidak memilih kost disana. Tapi ya sudahlah biarlah satu tahun berlalu di kost ini.” Kata Izha menggerutu. Hingga suatu hari dia menerima sebuah sms dari Mbak Iza, “Dek, ikutan liqa’ sama mbak yuk?” ajaknya dengan emoticon smile yang tak pernah ia tinggalkan ketika mengirimkan sebuah pesan. “Dimana dan kapan, mbak?” tanyanya penasaran. Awalnya ingin pula Izha bertanya “liqa’ ma apaan atuh” tapi dia urungkan. Karena dia mengerti, toh kalau dah ikutan Izha bakalan tau sendiri. Yang pasti dia meyakini bahwa ini adalah suatu kegiatan positif. “Setiap Jum’at sore, di pelataran perpustakaan pusat. Disana ada sebuah gazebo yang biasa kami gunakan untuk mangkal, mengkaji ilmu Allah, datang ya.. Mbak tunggu.” Masih sama dengan emoticonnya. Izha tersenyum, dan dengan antusiasnya dia menuliskan sebuah balasan, “InsyaAllah, mbak. Terimakasih..“
Darinya Izha banyak belajar. Suatu hari setelah ada sebuah training leadership, salah seorang teman serombelnya menjadi the best. “Bisa ndak ya aku berdiri di depan sana, menerima sebuah hadiah kemudian di foto sama ketua panitia?” Angannya berkeliaran, tidak mungkin. Waktupun berlalu, karena azzamnya yang terpatri begitu kuat, suatu hari yang cerah dia memutuskan mengikuti Bacic Leadership and Training yang diselenggarakan oleh Moslem Organisation of Sains Education. Dan dia bertekad, “hari ini aku yang akan berdiri di depan sebagai peserta terbaik.” Dan semuanya berjalan sesuai dengan harapan. Ketika nama Izha As-Syifa dipanggil sebagai the best participant, seorang wanita tiba-tiba berteriak dari belakang, “Yang berdiri disana adalah adik PSku. Ya, Personality School, dialah Mbak Atul. Mentor Izha yang sekali dalam seminggu mengajaknya wisata rohani untuk menafakuri keagungan-Nya. Haru dan bangga menyelimuti saat Izha berhasil mewujudkan salah satu dari ratusan impiannya. Serta merasa diakui adalah sesuatu yang sangat luar biasa.

Kamis, 29 Oktober 2015

Ku Bersimpuh Pada-Mu Ya Rabb

ولله الاسماءالحسنى فادعوه بها وذروالذين يلحدون فى اسماءه سيجزون ماكانوايعملون

Hanya milik Allah asmaaul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaaul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam menyebut nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. (Al A'raaf :180)


Al-Ghafur, salah satu dari 99 nama Allah yang artinya Maha Pengampun. Di antara dia yang menyebut nama ini adalah hadits yang menerangkan ketika Abu Bakar berkata kepada Rasulullah Saw., "Ajarkanlah aku sebuah doa yang akan aku baca di setiap shalatku." Beliau menjawab, 'Katakanlah :
اللهم انى ظلمت نفسي ظلما كثيرا ولا يغفر الذنوب الاانت فاغفرلى مغفرة من عندك وارحمني انك انت الغفورالرحيم
'Ya Allah, sesungguhnya aku telah banyak berbuat aniaya dan tidak ada yang bisa mengampuni dosa terkecuali hanya Engkau, karena itu ampunilah aku dengan ampunan yang datang dari sisi-Mu, dan rahmatilah aku, karena sesungguhnya hanya Engkaulah Yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang'. (Sahiihul Bukhari, 799)

Siapa saja yang dengan keyakinannya berdoa dan memohon kepada Allah, Allah pasti mengabulkannya. Ntah itu sekarang ataupun nanti, langsung ataupun tidak, tapi percayalah Allah pasti akan mengabulkan semua permohonan hamba-Nya yang meminta kepada-Nya. Bisa saja Allah mengabulkan ketika kita masih di dunia, bisa pula ketika kita sudah di akherat kelak. Bisa sesuai dengan harapan kita, ada pula yang tidak. Tapi yakinlah, sekali lagi yakinlah!! Allah lebih mengetahui apa yang terbaik untuk hamba-Nya. Allah itu Maha Melihat, Maha Mendengar, dan Maha Pengampun atas segala dosa. Suatu hari saya berkeluh kesah atas kehidupan yang saya, saya slalu bertanya pada hati saya sendiri, "Apa yang menghalangi saya untuk taubatan nashuha?" Bahkan saya jengkel dengan diri saya sendiri yang enggan membuka mata hati untuk sekedar mensyukuri segala nikmat-Nya. Sampai akhirnya saya bertemu dengan seorang wanita, sengaja saya mendatanginya karena saya yakin dia bisa membantu saya. Dan setiap kali saya mengeluh dia slalu berkata, "Hilangkan segala keraguan yang ada di hatimu, hindari perbuatan-perbuatan haram yang dapat mengotori jiwamu, perbanyaklah ibadah untuk memperkuat imanmu, dan teguhkanlah keyakinanmu bahwa Allahlah tujuan hidupmu". Tapi berkali-kali saya kembali goyah dan goyah, tapi setiap mendengarkan nasehatnya hati saya kembali sejuk. Allah yang mengirimkan ketenangan padaku dengan perantaraan dirinya, Allah mengirimkan dia untukku agar membimbingku menuju ridla-Nya, maka dari itu kepada Allah pula ingin kuungkapkan segala rasa syukurku dan pada-Nya pula kumohon ampun. Hamba menitipkan hati hamba untuk-Mu, jagalah agar hamba bisa tetap istiqamah di jalan-Mu.

Rabu, 15 April 2015

Everybody Fighting

Tertanggal,
 06 April 2015.
Hari itu di sekolah diadakan training motivasi yang diisi oleh motivator
 dari Kampung Inggris Pare, Kediri. Marendra Darwis dan Mas Joy.
Marendra Darwis adalah seorang penulis, salah satu bukunya yang pernah
aku baca berjudul, "Apakah Bibirmu Masih Perawan". Acara ini sangat
berkesan, aku yang datang membawa letih, ketika pulang semangat kembali
membara, bagai api bertemu ranting-ranting kering.
Banyak hal yang bisa aku petik dari acara tersebut. Salah satu yang
paling aku ingat adalah ketika beliau bertanya,
"Apa kalian yakin umatnya Rasulullah?"
Kemudian beliau bercerita, di Padang Mahsyar ketika dikumpulkan, seorang
 ditanya oleh Allah, "Benarkah kamu umat Rasulullah?"
"Benar Ya Allah."
Kemudian Allah memanggil Rasul-Nya, "Benarkah dia umatmu?"
Rasulullah menjawab, "Bukan".
Malukan kalau ngaku-ngaku jadi umat Rasulullah, sedang Rasulullah tak
mengakui kita? Maka dari itu kita jangan hanya mengaku-ngaku, tapi juga
melaksanakan apa yang disunnahkan setelah memenuhi kewajiban. Jadikan diri dengan Rasulullah seperti jari telunjuk dan jari tengah, yang selalu dekat dan rekat. Marendra Darwis juga tak hentinya mengingatkan kita bahwasannya Allah selalu menolong hamba-Nya yang beriman, terus dan teruslah memperbarui iman dan semangat. Janganlah malas, beliau berkata, "Rasa malas muncul karena jauhnya ingatan dengan impian." Saat itu pula aku teringat dengan janjiku, untuk bertindak lebih keras dari biasanya. Untuk berbuat lebih banyak guna memenuhi ketertinggalanku. Janji yang hampir melebur beriring jiwaku yang merana. Tapi itu dah lewat, sekarang yang ada adalah masa depan. Masa depanku dengan impian-impianku yang tergores dalam selembar kertas putih tanpa dosa. 5 cm impian-impian itu ada di depan keningku, di dalam genggamanku.