Cari Blog Ini

Senin, 07 Agustus 2017

Tenanglah, Segala Sesuatu Berjalan dengan Ketentuan dan Taqdir





#menjadiwanitapalingbahagia
"Sesuatu yang membuatmu bahagia tak akan selamanya membahagiakanmu
Dan tidaklah kesedihan itu bisa mengembalikan sesuatu yang telah hilang"


Salah satu uraian Dale Carnegie untuk menggantikan pengertian dari beriman kepada qadha dan qadar adalah sebagai berikut :

"Seseorang menganjurkan kepada orang yang terkena musibah untuk tidak menghiraukan berbagai penderitaan yang dialaminya sebagaimana yang dilakukan oleh para kerbau dan ranting-ranting pohon." namun, orang itu tidak mengabaikan nasihat ini karena yakin keadaannya tidak bisa berubah.

Sekarang, marilah kita lihat pengakuannya setelah itu. Ia berkata : "Aku sering tidak bisa menerima sesuatu yang menimpaku. aku merasa sangat bodoh. Lalu aku berontak, mencaci keadaan, dan marah-marah hingga malam-malamku serasa seperti neraka. Setelah setahun jiwaku tertekan, aku baru teringat dengan nasehat tadi dan mencoba untuk mengikutinya. Padahal, sejak awal aku yakin bila keadaan ini tidak bisa berubah. Kemudian aku mengingat pernyataan seorang penyair bernama Walt Hewitmann dalam syairnya berikut ini :

Alangkah indahnya....
Aku bisa melihat kegelapan, terik matahari, dan merasakan lapar, bencana, putus asa, penghinaan dan teguran yang keras seperti hewan-hewan dan cabang-cabang pohon itu menghadapinya. Aku pernah menghabiskan dua belas tahun umurku bersama hewan-hewan ternak itu. Dan aku tidak melihat seekor seekor sapi betina pun yang kesusahan tau bersedih karena padang rumput terbakar atau kering karena sedikitnya hujan. Aku juga tidak pernah melihat ada sapi betina yang sedih karena ditinggalkan oleh sapi jantannya yang merayu sapi betina yang lain.


Sesungguhnya hewan menghadapi kegelapan, badai, dan rasa lapar dengan tenang dan santai. Karena itulah, mereka tak pernah mengalami stress dan penyakit jantung.

Pencerahan :
"Kenanglah semua kesuksesan dan kegembiraan itu. Lalu, lupakan semua kesulitan dan bencana yang pernah terjadi."

NOTES FROM MUKHOFAS INSPIRATION: Ujian Kesuksesan adalah Kunci Menuju Sukses - Sebu...

NOTES FROM MUKHOFAS INSPIRATION: Ujian Kesuksesan adalah Kunci Menuju Sukses - Sebu...: tiada sukses sebelum ujian bertubi tubi datang. banyak tidak tahu. sukses tidak datang penuh dengan kesenangan.

PPT Kimia Organik (Hidrokarbon)


Untuk mendapatkan ppt ini, download disini



Minggu, 06 Agustus 2017

Seminar Nasional IPA VIII Unnes


Seminar Nasional IPA adalah acara tahunan yang diselenggarakan Jurusan IPA Terpadu Universitas Negeri Semarang. Pada tahun 2017 ini sudah mencapai yang ke-8, tepatnya dilaksanakan pada hari Sabtu, 29 April 2017 di Hotel Grasia Semarang dengan tema "Inovasi Penelitian dan Pembelajaran IPA berwawasan Konservasi" dengan narasumber yaitu Prof. Dr. Melor M. D Yunus (Deputi Dean of Research and Innovation University Kebangsaan Malaysia; Kulthida Nughultam, Ph. D (Sciaence Education, Kasetsart University Thailand; dan Prof. Nathan Hindarto (Universitas Negeri Semarang).

Eksplore Surakarta



Jalan-jalan seharian dengan sahabat, namanya Septia Nurkhalisa, asli Demak. Awalnya si cuman mau nyobain rasanya naik kereta yang murah, yang kata orang Semarang-Solo cuman 10 ribu. Eh pas sampai stasiun beneran ada tuh kereta namanya Kereta Kalijaga. Beberapa rute yang kami lalui, yaitu Universitas Negeri Surakarta, belanja di pasar Klewer, ke Masjid Agusng Surakarta, dan Keraton Surakarta. 

Al-Hikam BAB 13



Lantunan amanat yang pernah disampaikan dalam kajian rutin Al-Hikam, BAB 13 :
“Bagaimana akan terang hati seorang hamba, yang gambar dunia terbayang jelas dalam cermin hatinya?
Bagaimana akan melangkah menuju Allah, padahal ia sedang terbelenggu dalam kungkungan syahwatnya?

Bagaimana ia akan bisa masuk ke hadhirat Allah, sedangkan ia belum suci dari kelalaiannya?
Dan bagaimana ia berharap akan mengerti rahasia-rahasia mendalam dan indah, sedangkan ia belum bertaubat dari kesalahan-kesalahannya?”

Pertanyaan-pertanyaan tersebut ketika membacanya menjadikan sebuah alat sebagai introspeksi diri jika mengharapkan benar keridhaan Allah, ketenangan hidup, dan kedamaian.

Ibnu Atthoilah mengibaratkan hati sebagai cermin, jika kita mau mengamati ketika cermin dihadapkan pada sumur yang gelap maka ia akan gelap. Namun jika dihadapkan pada matahari, maka ia akan berkilau. Begitulah hati kita, jika kita menghadapkan hati kita hanya pada dunia maka yang ada hanyalah kegelapan yang tiada henti, angan-angannya akan jauh pada dunia sehingga jauh dari dzikrullah. Semua itu terjadi karena kita terlalu mementingkan keingainan syahwat dan hawa nafsu terhadap duniawi yang dimanjakan oleh kelalaian yang berkelanjutan terhadap Allah, sehingga banyak kesalahan-kesalahan atau keteledoran yang kita ciptakan tanpa mau memikirkan kebenarannya.

Intinya banyaknya keteledoran dan kesalahan-kesalahan tersebut menjadi sebab terjadinya kelalaian, tenggelam dalam kelalaian menjadi faktor menuruti kehendak syahwat yang memperbudak, dan menuruti kehendak syahwat menjadi sebab utama cermin hati didominasi oleh gambar dunia yang gelap gulita.

"Dunia adalah sebuah madrasah, tempat kita menuntut ilmu dalam rangka ma'rifatullah. Maka dalam setiap hal yang kita pelajari, disana pasti terdapat hikmah yang tersurat maupun tersirat. Yang titik pangkalnya adalah ada Allah di balik segala sesuatu, bagi insan yang mau berfikir."

Jumat, 14 April 2017


Tugas Management Sekolah Semester tiga Pendidikan IPA Universitas Negeri Semarang, Dian Emy Mastura https://docs.google.com/presentation/d/1LzYMVpVteb7XBuE4RR3FgtXrd2ylwgLMiKJdQ1d6nGI/edit?usp=sharing